Ini lanjutan dari tulisanku dari tajuk yang sama. Memang pembenaran di lihat dari sudut agama, secara jelas mengutuk soal gay, namun demikian tidak berarti tenyata fenomena gay itu ada hampir disemua agama, khususnya agama Samawi (Islam, Yahudi, Kristen). Sedangkan pada kepercayaan animisme atau agama-agama kuno, fenomena gay di anggap hal yang wajar, ini misalnya pada suku Asmat di Papua, pada masa lampau terdapat tradisi menyodomi anak laki-laki yang belum dewasa atau akil balig. Merek percaya anak laki-laki membawa sifat perempuan yang didapat selama masa kehamilan hingga menyusui. supaya jantan, anak ini harus di beri cairan laki-laki dg melakukan ritual sodomi dengan pria seangkatan ayahnya, bukan ayahnya sendiri yang menyodomi. Ritual ini sangat sakral. Dari sini saja jelas banyak kultur budaya gay di Nusantara, atau kegiatan aktifitas gay.
Contoh lain pada masyarakat Makasssar kuno, sebelum Islam masuk. Yaitu adanya orang suci yang disebut BISSU, yang dianggap sebagai perantaraan DEWA. Para BISSU ini semua laki-laki yang tidak boleh kawin dg wanita. Sudah pasti para BISSU ini kewanita-wanitaan (waria).
Cerita tentang budaya Makassar Kuono ini belum lama ini pernah di bahas di forum Internasional , di Singapura tepatnya, dengan di gelar Karya Agung ILA Galiko, cerita Epos yang menyeruapai Ramayana, tetapi dengan tema lebih beragam, juga ketebatal bukunya/halamannya lebih banyak.
Kalau di Bali adanya budaya Lesbian/gay di Puri Gede, ini menurut Jaleswari P., dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI.
Jadi buat yang kontra ngga usah menganggap negatiflah dg gay, kalau ternyata di Nusantara aja banyak yang menerima atau menyerap kultur ini.
demikian halnya kalau di tinggal ASEAN, Jepang, RRC. Mungkin buat yang kontra jangan apriori dulu. Anda banyak pelajar dulu tentang sejarah. Sebab Guru Besar UGM saja, yaitu Prof. Dr. T. IBRAHIM ALFIAN, MENGAKUAI realita yang bahwa memang ada kehidupan atau kultutr gay di masyarakat Aceh, pada hala sebagaimana kita ketahuan Aceh saat itu adalah pusat Kerajaan Islam yang terbesar di Asia Tenggara Khususnya.
Tentang realita budaya gay di Aceh pernah ditulis oleh orientalis pakar Islamologi Belanda Snouck Hurgronje, dalam bukunya "THE ACHEHNESE".
Buat Mas Dede Utomo, yang DOKTOR sosiologi Universitar Airlangga, tahu
banyak tentang tradisi gay di Nusantara. mbok yao ikut di Forum ini (karena saya tahu Mas kita ini juga sering buka Boyzforum), juga Mas Prof. Dr. James Dananjaya dari UI, yang memang ahlinya cerita porno (juga soal gay) yang pakar Antropologi Budaya.
Jadi dari sudut kajian ilmiah aja fenomena budaya gay ngga bisa di anggap remeh, ternyata ada ilmunya sendiri. Jadi saya maklum aja sama yang gayphobia, itu karena dia ngga di dasari ilmu, wong teman-teman dosenku yang normal aja pada respek kok. Terima Kasih
Comments
A-
Seharusnya mendapat nilai A+. Tetapi karena terdapat banyak kesalahan bahasa, terpaksa Prof. Heart memberi nilai A- :):):)
sedikit koreksi kecil:
di lihat... seharusnya dilihat
di anggap... seharusnya dianggap
di beri... seharusnya diberi
di gelar... seharusnya digelar
di dasari... seharusnya didasari.
Sebaliknya,
disemua... seharusnya di semua.
wuiih... susenye berbasa indonesia nyang baek en bener (tuh... kan gue juga nggak becus berbasa indonesia nyang baek & bener) :):).
keep up the good work agung... i enjoy your article.
http://www.geocities.co.jp/Berkeley/3508/japanesehistory.html
thanks.
Dua statement yang berbeda freid !
1. Kunjungi mereka, beri penyuluhan atau pengetahuan
2. Kita tidak bisa melarang sebuah tradisi yang sudah menjadi gaya hidup
freid, gw demen banget bila melihat elo datang mengunjungi mereka berceramah menyuluh dan memberikan pengetahuan elo tentang gaya hidup yang menurut elo baik, dan gw pengen lihat gaya jalan elo setelah pulang berceramah ria dari sana... hi.. hi.. hi..
untuk kasus Papua sebagai epedemi Aids, itu karena pengaruh budaya luar, ada pekerja seks wanita sebagai barter dg kayu Gaharu.
Sebelum kalau anda mau jujur, penyakit seksual tidak pernah ada dalam sebagai besar sebelum.
Dan terbukti Aids bukan disebabkan karena adanya sodomi iyakan?
Profesor Heart saya turunkan pangkatnya dari posisi Dekan Fakultas Sastra Indonesia menjadi pembantu Dekan
Tugasnya mengepel lantai, dan menyapu halaman rumahnya Bapak Dekan
susenye = seharusnya "susahnya"
berbasa = seharusnya "berbahasa"
nyang baek en bener = seharusnya "yang baik dan benar"
Tertanda,
Prof. Dr. dr. Ir. Didi Perdana, MSc, MBA, MM, SH, Alm (eh sori, pangkat terakhir salah. Enak ajah, masa gw dah almarhum)
:roll: :roll: :roll: :roll: :roll: :roll: :roll:
===============================================
epidemi indonesia pertamakali ditemukan oleh wisatawan belanda di pulau bali. whats the point ? tentu saja anda tdk ingin mengatakan bhw ini juga sbg budaya. baik dari luar ataupun dalam. yg pengen kita tahu : apa benar kita mengatakan seks sbg budaya ? harusnya anda mengatakan bhw oral dan penetrasi selain anal juga mrp budaya. knp hanya sodomi ? menggelikan.
Tria, tadi gw brsan nemu duit jatoh
lumayan loh, duaratus perak
nih buat eloe ...........
:shock: :shock: :shock: :shock: :shock: :shock: :shock:
teru s kalo aku baca di Matra, aktifitas seksual itu ternyata juga menjadi budaya kekita zaman keemasan Romawi atau Yunani. Malah sek itu nga di anggap atau atau sesuai yang pelanggar sosial.
Buat Nas Agung kalo nulis jangan tergesa-gesa, saya tahu pasti anda sibuk, peluangkan waktu itu aja sudah prestasi sendiri. Lain sama kang Didi yang kalo saya perhatisn dia tuh 24 jam on line di web ini. Iyakan kang? (mana picnya yang lain)
terima kasih.
Neh, duluan gw dapet duit kepeng... limaratus perak !
Kang Didi... tolong titip untuk mas Satria ya... kesian dari tadi jlalatan blon dapet, gw lagi kebelet neh....